Agama dan sains dalam pandangan islam

Agama dan sains dalam pandangan islam

Umat Islam selama ini lebih merasa bahwa sains dan ilmu pengetahuan adalah sesuatu yang bertolak belakang dengan ajaran dan syari’at. Kesan ini sangat mengemuka dikalangan masyarakat muslim, sehingga melahirkan dikotomi tersendiri dalam memahami kedudukan sains dan ilmu pengetahuan dalam kehidupan. Seiring dengan perkembangan peradaban dalam kehidupan selama ini, bagi kalangan tertentu paradikma ini sudah mulai bergeser. Ini bisa disebabkan oleh merambahnya produk teknologi yang masuk ke dalam kehidupan masyarakat, dari teknologi informasi sampai teknologi lain yang tak mungkin dipisahkan dengan pola hidup manusia selama ini.

Padahal kalau kita masuk ke dalam relung sejarah peradaban umat manusia dari jaman Klasik hingga jaman sekarang, ada sederatan sejarah peradaban yang di dalamnya  terdapat peran Islam yang sangat menentukan perkembangan peradaban umat manusia sampai sekarang. Sejarah peradaban dimulai dari jaman klasik yang telah memasyurkan sederetan nama sebagai penemu seperti Euklides, Aristoteles, Archimedes dan lain-lain. Era selanjutnya dimulai pada awal abad ke lima Masehi, Alaric, raja Jerman dari suku Visigoth, menyerbu Roma dan menghancurkannya dalam serangan yang hanya berlangsung selama tiga hari. Lalu selama 66 tahun kemudian, Kaisar Romawi barat berakhir, Romulus Agustus berhasil digulingkan, dan pusat kekaisaran dipindahkan ke Konstatinopel, dan ini adalah awal redupnya cahaya kehidupan di belahan bumi Eropa. 

Eropa memasuki Zaman kegelapan, zaman tanpa ilmu pengetahuan, tanpa sastra, bahkan tanpa peradaban, ini berlangsung hingga ratusan tahun lamanya. Kegelapan peradaban Eropa disebabkan oleh terbelenggunya para cendikiawan oleh dominannya doktrin gereja pada saat itu, setiap perkembangan ilmu pengetahuan dipandang sebagai tindakan murka kepada tuhannya. Baru pada seribu tahun kemudian peradaban Eropa kembali bersinar yang dikenal dengan masa Rainaissance. 

Sementara pada saat dimana Eropa tenggelam dalam zaman kegelapan, ternyata di belahan dunia timur, umat Islam sedang merajut kegemilangan dalam kebudayaan dan ilmu pengetahuan. Dalam era kejayaan ini ilmuwan muslim sedang menguasai peradaban. M. Yusuf Abdurrahman dalam bukunya Cara Belajar Ilmuwan-Ilmuwan Muslim Pencetus Sains-Sains Canggih Modern, menuliskan, ilmuwan-ilmuwan muslim sangat berperan terhadap perkembangan dunia barat selama ini, bahkan terhadap sains modern. Dan ini terjadi dalam setiap bidang, diantaranya bidang Astronomi, Matematika, Fisika, Kimia, Ilmu Hayat, Kedokteran Sosiologi, Filsafat, Sastra, Arsitektur, seni rupa dan Musik.

Namun sejarah perkembangan sains dan ilmu pengetahuan yang dipublis barat selama ini lebih cederung mengemukakan peran para penemu dan ilmuwan barat. Dunia barat dalam menyampaikan fakta sejarah sains dan ilmu pengetahuan telah melakukan peloncatan. Seolah sejarah sains dimulai sejak zaman Euklides, Aristoteles, dan Archimedes, yang terjadi sebelum masehi, kemudian langsung dilanjutkan zaman perkambangan sains abat ke-16 dan 17 di Eropa. Mereka hanya mengungkapkan hanya sebahagian kecil dari peran sains islam yang pernah jaya di antara kedua zaman tersebut.
Ehsan Masood dalam dalam bukunya Science and Islam mengatakan bahwa  para pelopor hebat dalam sains modern sebetulnya hanya meneruskan hasil kerja para ilmuwan zaman Islam. Ia melanjutkan bagaimana ahli astronomi Polandia Nicolaus Copernicus menggunakan hasil karya ahli astronomi Islam sebagai dasar penemuan barunya tentang system tatasurya. Ahli sejarah metematika pun mengakui bahwa Aljabar telah dikembangkan di Bagdad pada abad ke-9 oleh Musa al-Khawarizmi.

Selanjutnya Ibnu al-Nafis, seorang fisikawan asal Kairo, pada abad ke-13 telah menemukan system sirkulasi paru-paru, peredaran darah melalui paru-paru. Ini menjadi tonggak dalam ilmu fisiologi tubuh manusia. Abbas bin Firnas, seorang Insinyur asal Andalusia, telah menemukan teori penerbangan dan telah melakukan percobaan penerbangan dengan sukses. Temuan Abbas ini terjadi pada enam abad sebelum Leonardo menciptakan dan terbang dengan Ornitopternya.

Tentunya masih sangat banyak nama-nama ilmuwan besar lainnya yang termasyur dan memberi rupa pada wajah Islam pada waktu itu. Sebut saja Ibnu Ismail al-Jajari yang telah menciptakan robot manusia (humanoid) yang bisa diprogram, ini terjadi jauh sebelum Leonardo da Vinci dari Italia sanggup merancang robotnya pada tahun 1478 M, yang pada ungkapan sejarah selama ini telah mengklaim bahwa da Vinci  sebagai perintis robot pertama. Dalam bidang filsafat ada Ibnu Rusyd (1126-1198) yang dihormati barat dengan nama Averroes. Dalam bidang politik dan budaya ada Ibnu Khaldun (lahir 27 mei 1332) dan dalam bidang navigasi ada Ibnu Battutah yang telah menjelajah dunia dari Rusia hingga Samudra Pasai,  dan Ibnu Majid yang telah menemukan Kompas Modern.
Pemicu Kemajuan dan Kemunduran Sains Islam

Ada beberapa faktor yang membuat sains di dunia Islam pada abad pertengahan dapat berkembang dengan pesat, antara lain gairah dan semangat yang luar biasa yang dimiliki untuk menimba dan menggali Ilmu Pengetahuan. Mereka menggali isi kandungan al-Quran dengan tek-tek ilmuwan terdahulu dari Yunani kuno. Islam sangat membebaskan dan menghormati otoritas pemikiran dan penalaran selama masih dalam koridor syar’i. Dan semangat yang luar biasa itu pula ternyata juga didukung oleh penguasa pada saat itu. Ehsan Masood mengatakan bahwa para ilmuwan Islam melakukan penyerapan budaya lain lalu memodifikasinya dan membuat inovasi dengan berbagai ide baru, ini pula yang menjadi ciri dari sains Islam pada masa itu. Sehingga kedudukan sains Islam menjadi penghubung antara masa lalu dan masa depan.

Masa kejayaan itu, sepertinya kini telah bergeser. Sains dan ilmu pengetahuan dalam dunia Islam meredup. Masa kegemilangan tidak lagi di tangan Islam. Kita tinggal hanya mengenang akan kejayaan itu tanpa memiliki kemampuan untuk meneruskan, apalagi mewarisi semangat seperti halnya semangat yang dimiliki oleh para cendikiawan di masa  kejayaan islam di abad pertengahan dulu. Umat Islam sekarang lebih disibukkan oleh doktrin kelompok dalam menghadapi perbedaan pemahaman antar golongan sesama Islam. Islam lebih disibukkan oleh hal-hal yang tidak substansi dalam memahami ajaran, dang friksi ini semakin menajam seiring dengan perkembangan waktu.

Padahal kitab suci yang menjadi pedoman hidup bagi ummat Islam sendiri mengandung isi yang sarat dengan sains dan ilmu pengetahuan. Al-Quran menjelaskan seluruh fenomena alam dari berbagai bidang kehidupan, dari proses terjadinya manusia, tentang tatasurya, ruang angkasa, fenomena yang ada di laut hingga kejadian yeng terjadi di perut bumi, semua ini tidak luput dari paparan yang terkandung dalam isi al-Quran. Dan dengan ini pula ribuan ilmuan barat menemukan adanya relefansi antara kejadian yang ada di alam, ternyata telah terlebih dahulu dijelaskan di dalam al-Quran, sehingga para ilmuwan ini mendapatkan wahyu dari Allah, menguncapkan syahadat dan selanjutnya menjadi muslim yang taat dan cendikia.

Di sisi lain tanpa disadari umat Islam terjebak dalam skenario tersembunyi dari pihak tertentu untuk merancang sebuah kemunduran bagi umat islam secara global. Sehingga pemahaman bahwa kajian ilmiah, mempelajari sains dan ilmu pengetahuan adalah sesuatu yang tidak penting. Pemahaman ini terus menguat bahkan menjadi doktrin bagi genarasi muda yang masih dibangku sekolah menengah selama ini. Karena pihak tertentu itu paham betul, sejarah telah membuktikan doktrin gereja pada abad pertengahan dahulu telah membuat eropa terjerambah ke lembah kebodohan dan keterbelakangan.

Akan tetapi terhadap Negara muslim yang sains dan teknologinya dapat berkembang dengan pesat, seperti Iran ,Pakistan, Turki dan lain-lain, pihak yang menskenariokan kemunduran Islam tetap saja melakukan upaya tertentu. Pihak barat mengitervensi Negara ini habis-habisan dengan alasan yang tidak dapat diterima akal sehat. Yang tujuan akhirnya hanya satu, Islam tidak boleh maju dibidang sains dan ilmu pengetahuan. Sehingga kedigjayaan barat dalam menjajah Negara-negara Islam semakin dapat dipertahankan.

 Maka semua ini tinggal kepada kita, cara bagaimana kita harus berfikir dan kearah mana generasi muda diarahkan.  Jangan-jangan kita justru nyaman berada pada zona keterpurukan ini. Bisa jadi karena kita tidak menyadarinya, karena kita larut dalam ego sektoral yang membuat kita tidak mau terbuka terhadap perkembangan.

Penulis : Nurmahdi Nurdha

Dilarang mengopy artikel ini tanpa mengedit dan mencantumkan sumbernya.Hargai kerja keras orang lain.
Title: Agama dan sains dalam pandangan islam
Posted by:rafsanjani kahfi
Published :2015-11-12T21:48:00+07:00
Rating: 3.5
Reviewer: 5 Reviews
Agama dan sains dalam pandangan islam
Share this article :
+
15 Komentar untuk "Agama dan sains dalam pandangan islam"

thanks udah di update sob, nambah2 ilmu hehe

ilmu apapun itu semua bersumber dari agama gan

Yang jelas, ksduanya sama sama memberikan ilmu dgn teori yg berbeda

kalau bocara agama itu memang gak ada habisnya yah, asal jangan saling menhina ya :)

wah...oke nih bisa nambah ilmu pengetahuan.....

wah jika membicarakan ini memang tak habis habis gan hehe

emang sih setau saya juga kalo di buku2 sejarah banyak penemu - penemu islam yang lebih dulu menemukan tapi malah orang eropa yang lebih terkenal sampe sekarang

Banyak penemu2 non islam yang justru belajar dari Al Qur'an...

memang dasar2 sains itu banyak terdapat di Al-Quran ko :)

Nambah wawasan gan, nice pos hehe

Selain menambah wawasan, jadi tambah kuat kepercayaan terhadap agama yang dipegang.

Bahkan dalam islam ada statement, ingin pintar? Bacalah Al-Quran. Itu bukti bahwa sains tak bisa lepas dari yang namanya agama.. :D

jaman yg mengikuti alquran bukan alquran yg mengikuti jaman

║ Berkomentarlah sesuai topik ║
║ Jangan menautkan link apapun ║
║ Cantumkan judul blog (bukan url blog) untuk kunjungan balik ║
║ Admin cuma balas komentar pertanyaan bukan pernyataan ║
║ No scam > No smoking :D ║

 
Template By Kunci Dunia